Pemanfaatan GeoLiDAR untuk Deteksi Vegetasi dan Estimasi Biomassa Hutan

Pendahuluan

Ketersediaan data spasial yang akurat mengenai vegetasi hutan sangat penting untuk pengelolaan sumber daya alam, konservasi, mitigasi perubahan iklim, serta perhitungan stok karbon. Seiring berkembangnya teknologi pemetaan, GeoLiDAR (Geospatial Light Detection and Ranging) menjadi salah satu metode paling efektif dalam mendeteksi struktur vegetasi dan mengestimasi biomassa hutan secara cepat, presisi, dan efisien.

GeoLiDAR bekerja dengan memancarkan gelombang laser ke permukaan bumi lalu merekam pantulan sinyal untuk menghasilkan point cloud tiga dimensi. Informasi elevasi yang sangat detail memungkinkan analisis struktur vertikal hutan, seperti tinggi pohon, stratifikasi vegetasi, kepadatan tajuk, hingga volume vegetasi. Data ini sangat diperlukan untuk estimasi biomassa dan pemantauan kesehatan hutan.

Konsep Dasar GeoLiDAR dalam Analisis Vegetasi

Teknologi GeoLiDAR menghasilkan point cloud yang mengandung ratusan ribu hingga jutaan titik per hektar. Setiap titik mewakili intercept laser dengan objek di permukaan tanah, termasuk daun, ranting, batang pohon, maupun permukaan tanah.

Dalam konteks vegetasi, dua parameter utama yang paling penting adalah:

  1. Canopy Height Model (CHM)

CHM diperoleh dari selisih antara:

  1. DSM (Digital Surface Model) → permukaan atas vegetasi/bangunan
  2. DTM (Digital Terrain Model) → permukaan tanah sebenarnya

Model ini sangat berguna untuk menghitung tinggi pohon dan menganalisis struktur tajuk.

  1. Profil Vertikal Vegetasi

GeoLiDAR menangkap pantulan multi-echo, sehingga setiap pulsa laser dapat menghasilkan beberapa titik dari lapisan vegetasi berbeda. Hal ini membuat GeoLiDAR unggul dibanding fotogrametri dalam memetakan hutan yang lebat.

Metodologi Analisis Biomassa Menggunakan GeoLiDAR

  1. Pengolahan Point Cloud

Tahapan awal meliputi:

  1. Import data LAS/LAZ
  2. Klasifikasi titik (ground, vegetation low-medium-high)
  3. Pembuatan DTM, DSM, dan CHM
  4. Ekstraksi tinggi pohon per plot
  5. Pendekatan Estimasi Biomassa

Beberapa metode umum:

  1. Allometric Equation (Paling Umum)

Biomassa dihitung dengan memasukkan parameter:

  1. DBH (diameter at breast height)
  2. Tinggi pohon (hasil CHM)
  3. Faktor jenis pohon

Contoh formula sederhana:
Biomassa = a × (DBH^b) × (H^c)
(di mana a, b, c nilai sesuai jenis vegetasi)

  1. Voxel-Based Biomass Estimation

Point cloud dipadatkan menjadi kubus (voxel) untuk menghitung volume vegetasi. Semakin banyak voxel terisi, semakin tinggi biomassa.

  1. Statistical Regression dan Machine Learning

Menggunakan hubungan antara variabel LiDAR (tinggi, densitas, intensitas) dengan biomassa survei lapangan:

  1. Random Forest
  2. SVM
  3. Gradient Boosting
  4. Deep Learning

Metode ini lebih presisi saat data hutan heterogen.

Hasil & Temuan Umum dari Pemanfaatan GeoLiDAR

Berdasarkan berbagai studi ilmiah, GeoLiDAR mampu memberikan manfaat berikut:

  1. Estimasi Biomassa Lebih Akurat

GeoLiDAR dapat mencapai tingkat akurasi 80–95% untuk biomassa di hutan tropis, terutama jika dikombinasikan dengan data survei lapangan.

  1. Pemetaan Struktural Hutan 3D

LiDAR mampu memodelkan:

  1. Tinggi pohon individual
  2. Kedalaman kanopi
  3. Tingkat tutupan vegetasi
  4. Distribusi vertikal daun

Hal ini penting untuk konservasi satwa, identifikasi area degradasi, dan rehabilitasi.

  1. Deteksi Perubahan Hutan (Change Detection)

Dengan perbandingan data multitemporal, GeoLiDAR dapat:

  1. Mendeteksi deforestasi kecil (< 5 meter perubahan tinggi pohon)
  2. Memantau pertumbuhan tanaman tahunan
  3. Mengidentifikasi kerusakan akibat kebakaran atau illegal logging
  4. Mendukung Estimasi Cadangan Karbon

Biomassa berkorelasi kuat dengan kandungan karbon. Karena itu, estimasi berbasis GeoLiDAR sangat efektif untuk program:

  1. REDD+
  2. MRV (Monitoring, Reporting, Verification)
  3. Penghitungan karbon nasional

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Longsor merupakan salah satu bencana geologi yang paling sering terjadi di wilayah berbukit dan pegunungan di Indonesia. Faktor penyebabnya meliputi kondisi geologi, kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, hingga aktivitas manusia. Untuk melakukan identifikasi dini terhadap potensi longsor, diperlukan teknologi pemetaan yang akurat dan mampu menggambarkan kondisi morfologi permukaan secara detail. GeoLiDAR (Geospatial Light Detection and Ranging) hadir sebagai teknologi pemetaan berbasis laser scanning yang menghasilkan model permukaan beresolusi tinggi. Data GeoLiDAR mampu menangkap variasi bentuk lahan, struktur lereng, dan pola aliran air, sehingga sangat efektif dalam analisis kerawanan longsor berbasis morfometri lereng.

Konsep Dasar GeoLiDAR & Morfometri Lereng

Apa itu GeoLiDAR?

GeoLiDAR adalah sistem pemetaan geospasial menggunakan laser untuk menghasilkan point cloud yang merepresentasikan permukaan bumi. Output utamanya mencakup:

  1. DEM (Digital Elevation Model)
  2. DTM (Digital Terrain Model)
  3. DSM (Digital Surface Model)
  4. Hillshade, Slope, Aspect
  5. Kontur resolusi tinggi

Dari data ini, analisis morfometri dapat dilakukan dengan ketelitian tinggi.

Apa itu Morfometri Lereng?

Morfometri lereng adalah analisis kuantitatif bentuk permukaan bumi, khususnya karakteristik lereng yang memengaruhi stabilitas lahan. Parameter utamanya meliputi:

  1. Kemiringan lereng (Slope)
  2. Arah lereng (Aspect)
  3. Kelengkungan lereng (Curvature)
  4. Elevation & Relief
  5. Pola aliran permukaan (Flow Accumulation)
  6. TPI (Topographic Position Index)

Analisis ini penting sebagai dasar deteksi potensi longsor.

Metodologi Evaluasi GeoLiDAR dalam Deteksi Rawan Longsor

  1. Akuisisi dan Pra-proses Data GeoLiDAR

Tahapan awal mencakup:

  1. Pengambilan data LiDAR ALS atau TLS/SLAM sesuai kebutuhan
  2. Filtering point cloud (ground vs non-ground)
  3. Klasifikasi vegetasi, bangunan, dan permukaan tanah
  4. Pembuatan DEM/DTM beresolusi tinggi (0.25–1 meter)

Kualitas data sangat memengaruhi ketepatan analisis morfometri.

  1. Ekstraksi Parameter Morfometri Lereng

Dari data DEM dilakukan perhitungan:

  1. Slope Map: mengidentifikasi area curam yang berpotensi runtuh
  2. Aspect Map: melihat arah lereng terkait pola hujan dan matahari
  3. Profile & Plan Curvature: mendeteksi area cekung/cembung yang mempengaruhi akumulasi air
  4. Flow Accumulation: memetakan jalur aliran permukaan
  5. Ruggedness Index: mengukur tingkat kekasaran permukaan
  6. TWI (Topographic Wetness Index): mengidentifikasi area rawan jenuh air
  1. Overlay Kerawanan Menggunakan GIS

Parameter-parameter morfometri kemudian di-overlay dengan pendekatan pembobotan:

  1. Weighted Overlay
  2. Analytic Hierarchy Process (AHP)
  3. Logistic Regression Spatial
  4. Machine Learning (Random Forest, SVM)

Output akhirnya berupa Peta Zonasi Rawan Longsor:

  1. Kerawanan Rendah
  2. Kerawanan Sedang
  3. Kerawanan Tinggi

Hasil Evaluasi: Keunggulan Penggunaan GeoLiDAR

  1. Detail Morfologi Sangat Tinggi

GeoLiDAR mampu merekam relief permukaan secara akurat meskipun tertutup vegetasi lebat. Hal ini tidak dimiliki oleh citra satelit resolusi menengah.

  1. Deteksi Mikro-topografi

Fitur kecil seperti:

  1. rekahan tanah,
  2. alur erosi kecil,
  3. tebing mikro,
  4. bekas longsoran lama,

dapat teridentifikasi jelas.

  1. Akurasi Kemiringan Lereng yang Sangat Baik

DTM LiDAR memberikan slope calculation presisi tinggi karena:

  • resolusi tinggi,
  • error vertikal sangat kecil (±5–10 cm).
  1. Efisiensi Analisis Kawasan Luas

Area ribuan hektar dapat dipetakan dalam waktu singkat.

Kesimpulan

GeoLiDAR terbukti sangat efektif dalam deteksi kawasan rawan longsor melalui analisis morfometri lereng. Dengan menghasilkan DEM beresolusi tinggi, teknologi ini mampu menggambarkan detail bentuk permukaan bumi yang menjadi faktor utama dalam kerentanan longsor. Integrasi GeoLiDAR dengan parameter morfometri dan teknik analisis spasial mulai dari slope hingga algoritma machine learning memungkinkan penyusunan peta kerawanan yang lebih akurat dan dapat dijadikan dasar perencanaan mitigasi bencana oleh pemerintah daerah maupun konsultan geoteknik.

 

 

 

Integrasi GeoLiDAR dan GIS dalam Perencanaan Tata Ruang Wilayah

Pendahuluan

Perencanaan tata ruang wilayah (RTRW) membutuhkan data spasial yang akurat, detail, dan mutakhir untuk mendukung penyusunan kebijakan pemanfaatan ruang yang berkelanjutan. Selama bertahun-tahun, pemetaan konvensional sering menghadapi kendala seperti cakupan terbatas, waktu survei yang lama, dan ketidakakuratan pada daerah dengan topografi kompleks. Kemajuan teknologi pemetaan khususnya GeoLiDAR (Geospatial Light Detection and Ranging) dan GIS (Geographic Information System) telah menghadirkan solusi modern yang mampu meningkatkan kualitas perencanaan ruang di tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi.

Integrasi kedua teknologi ini memungkinkan pemerintah daerah dan konsultan perencanaan untuk menganalisis kondisi fisik wilayah secara 3D dan melakukan simulasi pemanfaatan ruang yang lebih komprehensif, presisi, dan berbasis data.

Konsep Dasar GeoLiDAR dan GIS

Apa itu GeoLiDAR?

GeoLiDAR adalah teknologi pemetaan berbasis laser yang menghasilkan point cloud tiga dimensi dengan resolusi tinggi. Teknologi ini digunakan pada:

  1. Pesawat (ALS – Airborne LiDAR System)
  2. Mobil (MLS – Mobile LiDAR System)
  3. Tripod (TLS – Terrestrial LiDAR System)
  4. Drone/UAV (LiDAR drone)

Output utama GeoLiDAR meliputi:

  1. DTM (Digital Terrain Model)
  2. DSM (Digital Surface Model)
  3. CHM (Canopy Height Model)
  4. Model 3D bangunan dan infrastruktur

Apa itu GIS?

GIS adalah sistem yang digunakan untuk mengolah, menganalisis, dan memvisualisasikan data spasial untuk mendukung pengambilan keputusan.

Output GIS digunakan dalam dokumen:

  1. RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah)
  2. RDTR (Rencana Detail Tata Ruang)
  3. Kajian KLHS, AMDAL, dan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR)

 

Integrasi GeoLiDAR dan GIS dalam Perencanaan Tata Ruang

Integrasi dua teknologi ini memberikan kemampuan analisis spasial yang jauh lebih lengkap dibanding metode konvensional. Berikut beberapa penerapannya:

  1. Pemetaan Fisik Dasar Wilayah yang Lebih Presisi

GeoLiDAR menghasilkan peta:

  1. kemiringan lereng
  2. kontur dengan interval 0.5–1 meter
  3. bentuk permukaan tanah (DTM)
  4. bangunan dan infrastruktur secara 3D

Dalam GIS, data ini digunakan sebagai base map RTRW untuk menentukan:

  1. Kawasan lindung
  2. Kawasan budidaya
  3. Daerah rawan bencana
  4. Zonasi lahan dan wilayah permukiman

Contoh pemanfaatan:
Identifikasi kemiringan lereng > 40% untuk kawasan lindung dan konservasi.

  1. Analisis Risiko Bencana Berbasis Data 3D

GeoLiDAR sangat efektif untuk pemetaan:

  1. rawan longsor (berdasarkan DTM dan kemiringan)
  2. rawan banjir (menggunakan model limpasan air atau flow accumulation)
  3. rawan tsunami (menggabungkan elevasi dan jarak dari garis pantai)

 

GIS membantu meng-overlay data tersebut dengan:

  1. penggunaan lahan
  2. kepadatan penduduk
  3. jaringan jalan
  4. bangunan kritis (sekolah, rumah sakit)

Hasilnya dipakai dalam:

  1. KLHS RTRW
  2. penyusunan rencana mitigasi bencana
  3. penentuan zona aman permukiman
  1. Identifikasi dan Monitoring Perubahan Penggunaan Lahan

GeoLiDAR multitemporal (dari pemotretan berbeda tahun) memungkinkan:

  1. deteksi deforestasi
  2. perubahan tutupan lahan
  3. pertumbuhan kawasan permukiman
  4. penyusunan tren urbanisasi

GIS kemudian mengkonversi perubahan ini menjadi informasi:

  1. kecenderungan pertumbuhan kota
  2. kebutuhan infrastruktur masa depan
  3. rekomendasi pengembangan kawasan baru (urban growth model)
  1. Penyusunan RDTR dan Zonasi Berbasis 3D

Dengan GeoLiDAR, pemerintah dapat membentuk model 3D bangunan dan vegetasi yang sangat detail.
Dalam GIS, ini sangat berguna untuk:

  1. analisis KDB (Koefisien Dasar Bangunan)
  2. KLB (Koefisien Lantai Bangunan)
  3. ketinggian bangunan (building height)
  4. setback/jarak sempadan
  5. analisis bayangan (sun shadow)

Zonasi menjadi lebih realistis dan sesuai kondisi lapangan.

  1. Perencanaan Infrastruktur dan Simulasi Rute

Data DTM hasil LiDAR memungkinkan:

  1. pemilihan rute jalan
  2. desain drainase
  3. penentuan lokasi jaringan utilitas
  4. analisis cut and fill untuk konstruksi

GIS kemudian memproses data tersebut menjadi:

  1. analisis biaya
  2. peta rencana jaringan jalan
  3. model kesesuaian lahan
  4. alternatif jalur transportasi
  1. Penyusunan Kebijakan Tata Ruang yang Lebih Akurat

Integrasi GeoLiDAR dan GIS menghasilkan data:

  1. faktual
  2. terukur
  3. berbasis bukti (evidence-based planning)

Sehingga kebijakan tata ruang lebih:

  1. presisi
  2. berkelanjutan
  3. minim konflik pemanfaatan ruang
  4. sesuai dengan prinsip keadilan spasial

Kesimpulan

Integrasi GeoLiDAR dan GIS menawarkan pendekatan modern dalam perencanaan tata ruang wilayah. Teknologi ini memberikan pemahaman komprehensif terhadap kondisi fisik dan sosial wilayah, memungkinkan perencanaan yang lebih presisi, efektif, dan responsif terhadap risiko bencana maupun dinamika pembangunan. Dengan kemampuan menganalisis data 3D secara detail, GeoLiDAR dan GIS bukan hanya meningkatkan kualitas RTRW dan RDTR, tetapi juga menjadi fondasi bagi pengembangan smart city, pemantauan lingkungan, dan implementasi kebijakan pembangunan berkelanjutan.

 

TechnoGIS Indonesia Highlights IT Sensing and Geospatial Technology at INTI EXPO 2025: Empowering Smart Industry with Innovation

Jakarta, October 30, 2025 — TechnoGIS Indonesia proudly took part in the Indonesia Technology and Innovation Expo (INTI EXPO) 2025, a leading exhibition focused on industrial innovation, digital transformation, and emerging technologies, held at JIExpo Kemayoran, Jakarta from October 28–30, 2025.
The event gathered technology leaders, manufacturers, and innovators to explore next-generation solutions driving Indonesia’s industrial advancement.

As one of the exhibitors, TechnoGIS Indonesia introduced its latest innovations in IT Sensing and geospatial technology, showcasing how integrated data systems, sensors, and spatial analytics support operational efficiency, automation, and high-precision monitoring. Visitors had the opportunity to discover how these solutions enhance decision-making and digital connectivity across sectors such as manufacturing, infrastructure, and smart city development.

Driving Innovation and Digital Transformation

Through its participation in INTI EXPO 2025, TechnoGIS Indonesia emphasized its commitment to fostering innovation and accelerating the adoption of smart technologies across industries. The integration of IT Sensing and geospatial intelligence marks a crucial step toward realizing Indonesia’s vision for an adaptive, technology-driven industrial landscape.

Thank You for Visiting TechnoGIS at INTI EXPO 2025

TechnoGIS Indonesia expresses its gratitude to all attendees who visited our booth and learned more about our IT Sensing and geospatial solutions. Your engagement and insights drive our continued mission to empower industries with data-driven innovation and precision.

Tags: #INTIExpo2025 #ITSensing #IndustrialInnovation #SmartTechnology #GeospatialSolutions #TechnoGISIndonesia #Precision #Presisi #InnovationForTheFuture

TechnoGIS Indonesia Showcases Drone and Geospatial Innovations at INDONESIA DRONE EXPO (IDE) 2025: Revolutionizing Industries Through Precision

Jakarta, October 30, 2025 — TechnoGIS Indonesia proudly participated in the Indonesia Drone Expo (IDE) 2025, one of the nation’s premier exhibitions dedicated to drone technology and innovation, held from October 28–30, 2025 at JIExpo Kemayoran, Jakarta.
The three-day event served as a dynamic hub for technology pioneers, industry professionals, and innovators shaping the future of aerial solutions and intelligent data applications across various sectors.

As one of the exhibitors, TechnoGIS Indonesia showcased its latest geospatial and drone-based technologies that are revolutionizing mapping, monitoring, and industrial operations with high precision. Visitors experienced how TechnoGIS’s UAV systems, LiDAR solutions, and photogrammetry tools deliver smarter data collection, real-time analytics, and efficient decision-making across industries such as infrastructure, energy, environment, and construction.

Empowering Industries Through Drone Innovation

IDE 2025 united key players from the drone, robotics, and technology sectors, offering a platform to exchange knowledge and foster collaboration toward a more connected and efficient industrial ecosystem.
By participating in the event, TechnoGIS Indonesia reaffirmed its commitment to advancing geospatial innovation and drone-based solutions that empower industries through data-driven insights and technological precision.

Thank You for Visiting TechnoGIS at IDE 2025

TechnoGIS Indonesia extends sincere appreciation to everyone who visited our booth (A1 48B–49A) and explored our innovations in drone and geospatial technology. Your enthusiasm and valuable discussions continue to inspire TechnoGIS to push the boundaries of innovation for a smarter and more connected future.

Tags: #IndonesiaDroneExpo2025 #DroneInnovation #GeospatialTechnology #LiDAR #UAVMapping #SmartIndustry #Precision #Presisi #TechnoGISIndonesia #InnovationForTheFuture

TechnoGIS Selected as One of the Top 8 B2B Startups in the Startup Welcome Package 2025 Stuttgart

Stuttgart, Germany – Exciting news from Europe! PT TechnoGIS Indonesia, a geospatial technology startup based in Yogyakarta, has been selected as one of the Top 8 B2B Startups in the prestigious Startup Welcome Package 2025 program, held in Stuttgart, Germany.

This international program opens up strategic opportunities for selected startups to expand their global business networks, explore the European market, and showcase Indonesia’s geospatial innovation on a global stage. With this achievement, TechnoGIS proudly brings the spirit of Indonesian innovation to the world.

A Golden Opportunity for Global Expansion

The Startup Welcome Package is an initiative by the City of Stuttgart and local business partners to attract high-potential international startups with a focus on innovation and impactful technology. As one of the chosen participants, TechnoGIS will receive office space, business mentoring, connections to the industrial ecosystem, and valuable collaboration opportunities with various stakeholders across Europe.

Ir. Sarono S.Si., M.Eng., IPM, who personally represented TechnoGIS at the program and serves as the President Director of PT TechnoGIS Indonesia, expressed his appreciation for this valuable opportunity.

“This program opens many new doors for TechnoGIS. Not only does it allow us to broaden our market reach, but it also provides space to build partnerships with international collaborators who share the same vision for sustainable geospatial technology development,” he stated.

Insights and Aspirations

Mr. Sarono further emphasized that TechnoGIS’s participation in this program is a testament to the global competitiveness of homegrown Indonesian innovation.

“We are truly grateful for the support of all parties, including the government and Indonesia’s startup community. Our hope is that this participation marks the beginning of TechnoGIS’s global expansion while also opening up international collaborations in geospatial technology for sustainable development,” he added.

He also hopes that TechnoGIS’s journey will inspire other Indonesian startups to grow confidently and reach the global stage.

Proudly Representing Indonesia

By joining the Startup Welcome Package 2025, TechnoGIS not only represents itself but also brings the spirit of Indonesian innovation to the global spotlight.

Through this program, TechnoGIS aims to expand its geospatial technology solutions—currently used in government, infrastructure, forestry, agriculture, and disaster management—into broader international markets.

Kolaborasi PLN Enjiniring dan TechnoGIS: Langkah Strategis Menuju Inovasi Digital di Sektor Energi dan Lingkungan

Jakarta, 21 Mei 2025 – Dalam era transformasi digital yang kian pesat, inovasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan di berbagai sektor, termasuk energi dan pengelolaan lingkungan. Sebagai bagian dari komitmen dalam mendorong inovasi digital, PLN Enjiniring secara resmi menjalin kerja sama strategis dengan TechnoGIS Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi geospasial dan Internet of Things (IoT), untuk pemanfaatan teknologi canggih dalam monitoring sedimentasi secara real-time.

Kolaborasi ini menandai langkah penting dalam pemanfaatan teknologi IoT “IT Sensing”, khususnya melalui integrasi perangkat unggulan bernama Blue Marine Echosounder. Perangkat ini dirancang untuk mendeteksi dan memantau kondisi sedimentasi di lingkungan perairan secara akurat, cepat, dan berkelanjutan. Dengan adanya teknologi ini, proses pemantauan sedimentasi yang sebelumnya memerlukan metode manual dan rentan terhadap keterlambatan data, kini dapat dilakukan secara otomatis dan real-time, membuka peluang besar untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat waktu dan berbasis data.

Solusi Cerdas untuk Tantangan Lingkungan

Sedimentasi adalah tantangan nyata dalam pengelolaan sumber daya air, baik di bendungan, waduk, kanal, maupun instalasi pembangkit listrik tenaga air. Penumpukan sedimen yang tidak terpantau secara berkala dapat menyebabkan penurunan kapasitas tampung, mempercepat degradasi infrastruktur, hingga berdampak pada efisiensi produksi energi. Oleh karena itu, teknologi seperti Blue Marine Echosounder hadir sebagai solusi yang sangat relevan.

Perangkat ini bekerja dengan memanfaatkan prinsip sonar untuk mengukur kedalaman dan distribusi sedimen di dasar perairan. Data yang diperoleh kemudian dikirimkan secara langsung melalui sistem IoT ke platform digital, di mana pihak pengelola dapat memantau kondisi terkini dari lokasi yang dimaksud kapan saja dan di mana saja.

Dukungan Terhadap Visi Energi Berkelanjutan

Melalui kerja sama ini, PLN Enjiniring tidak hanya menunjukkan komitmennya dalam mengadopsi teknologi terkini, tetapi juga mendukung pencapaian visi besar PLN Group untuk menjadi perusahaan energi yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Teknologi monitoring digital seperti ini juga mendukung agenda besar pemerintah Indonesia dalam hal digitalisasi sektor energi dan penguatan ketahanan infrastruktur melalui teknologi ramah lingkungan.

Di sisi lain, TechnoGIS Indonesia sebagai mitra teknologi membawa pengalaman dan keahlian dalam pengembangan perangkat berbasis sensor, pemetaan geospasial, dan sistem digital terintegrasi. Kolaborasi ini menjadi wujud nyata dari sinergi antara sektor energi dan penyedia teknologi lokal dalam menciptakan inovasi berbasis kebutuhan nasional.

Kolaborasi yang Terbuka untuk Masa Depan

Kerja sama antara PLN Enjiniring dan TechnoGIS Indonesia juga membuka peluang besar untuk implementasi teknologi serupa di berbagai proyek lain ke depannya. Pemanfaatan perangkat Blue Marine Echosounder dapat diperluas tidak hanya untuk monitoring sedimentasi, tetapi juga untuk berbagai aplikasi kelautan dan pengelolaan sumber daya air lainnya, termasuk mitigasi banjir, pengelolaan pelabuhan, serta konservasi lingkungan perairan.

Dengan semangat “Kolaborasi untuk Inovasi Digital”, sinergi ini diharapkan menjadi awal dari berbagai inisiatif berbasis teknologi yang akan memperkuat ekosistem inovasi di sektor energi dan lingkungan hidup di Indonesia. Kehadiran solusi seperti Blue Marine Echosounder menjadi bukti bahwa inovasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kolaborasi, visi bersama, dan keberanian untuk melangkah maju menuju masa depan yang lebih baik.

TechnoGIS Indonesia Serahkan GeoLiDAR ALS dan GNSS EQ1 RTK untuk Mendukung Riset Hidrologi dan Konstruksi Berkelanjutan di BHLK PUPR

Bogor – Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan riset dan pemetaan lingkungan di sektor konstruksi dan hidrologi, TechnoGIS Indonesia telah melaksanakan serah terima perangkat GeoLiDAR Airborne Laser Scanning (ALS) dan TGS GNSS EQ1 RTK kepada Balai Hidrologi dan Lingkungan Konstruksi (BHLK), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan kantor BHLK, dan dihadiri oleh jajaran teknis, peneliti, serta perwakilan dari TechnoGIS Indonesia. Penyerahan dua perangkat teknologi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong efisiensi dan akurasi tinggi pada kegiatan pemetaan topografi, analisis hidrologi, serta monitoring lingkungan konstruksi yang memerlukan data spasial detail dan real-time.

Perangkat GeoLiDAR ALS memungkinkan akuisisi data ketinggian permukaan tanah dengan sangat akurat, bahkan di area vegetasi lebat, sehingga sangat ideal untuk kajian DAS (daerah aliran sungai), pemetaan kontur, hingga simulasi banjir. Sementara TGS GNSS EQ1 RTK akan mendukung proses ground control dan validasi data dengan akurasi centi-level secara real-time.

TechnoGIS Indonesia juga memberikan pelatihan penggunaan dan integrasi sistem, guna memastikan perangkat dapat dioperasikan secara optimal oleh tim teknis di BHLK. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat riset berbasis geospasial di bidang hidrologi dan infrastruktur berkelanjutan.

Meningkatkan Kompetensi Geospasial Mahasiswa: TechnoGIS Indonesia Hadirkan Kuliah Tamu di UPN “Veteran” Yogyakarta

Yogyakarta, 7 Mei 2025 – Dunia pemetaan dan survei geospasial terus mengalami perkembangan seiring kemajuan teknologi, khususnya dalam pemanfaatan teknologi GNSS (Global Navigation Satellite System) yang kini semakin presisi dan canggih. Untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan mahasiswa di bidang ini, TechnoGIS Indonesia bekerja sama dengan Program Studi Teknik Geomatika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Pemetaan Presisi Tinggi Menggunakan Teknologi GNSS Geodetik Berstandar Global.”

Acara ini dilaksanakan di ruang ALD 3.6, Kampus Unit 1 UPNVY, dan dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari Departemen Teknik Geomatika. Kuliah tamu ini menghadirkan narasumber Gen Azza, S.Geo., yang merupakan Business Development Produk di PT TechnoGIS Indonesia. Beliau berbagi pengetahuan terkait perkembangan teknologi GNSS, khususnya pemanfaatannya dalam pemetaan dengan presisi tinggi untuk kebutuhan survei geospasial modern.

Dalam presentasinya, Gen Azza memaparkan secara mendalam tentang bagaimana sistem GNSS dapat diintegrasikan dalam kegiatan pemetaan profesional, termasuk teknologi RTK (Real Time Kinematic) yang memungkinkan pengukuran dengan ketelitian tinggi dalam waktu singkat. Salah satu momen penting dalam acara ini adalah demonstrasi langsung alat GNSS TGS EQ1 RTK, yang merupakan salah satu perangkat unggulan dengan kemampuan akurasi tinggi dan efisiensi kerja di lapangan.

Mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga berinteraksi langsung dengan teknologi yang digunakan oleh para profesional di industri geospasial. Sesi tanya jawab berjalan aktif, mencerminkan antusiasme mahasiswa untuk memahami lebih dalam bagaimana teknologi GNSS dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang seperti pemetaan topografi, konstruksi, pertanahan, hingga sistem informasi geografis (SIG).

Kegiatan ini menjadi bukti nyata pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan industri. Pihak TechnoGIS Indonesia menyampaikan bahwa salah satu tujuan utama dari penyelenggaraan kuliah tamu ini adalah mendukung peningkatan kompetensi generasi muda di bidang geomatika, agar lebih siap menghadapi tantangan dan kebutuhan industri ke depan. Transfer pengetahuan seperti ini diharapkan menjadi jembatan antara teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik yang terjadi di lapangan.

Bagi Program Studi Teknik Geomatika UPNVY, kegiatan seperti ini memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran. Dengan menghadirkan narasumber langsung dari industri, mahasiswa dapat memperoleh gambaran nyata mengenai tren dan kebutuhan pasar kerja. Selain itu, pengalaman praktik langsung dengan peralatan modern seperti GNSS TGS EQ1 RTK juga memberikan kepercayaan diri lebih bagi mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan teknis mereka.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang teknologi geospasial, TechnoGIS Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui kegiatan kuliah tamu, pelatihan, dan kerja sama lainnya, TechnoGIS berharap dapat menjadi bagian dari tumbuh kembangnya ekosistem geospasial Indonesia yang kompeten dan berdaya saing global.

Membangun Sinergi Dunia Industri dan Pendidikan Tinggi: TechnoGIS Indonesia Audiensi ke STTKD Yogyakarta

Membangun Sinergi Dunia Industri dan Pendidikan Tinggi: TechnoGIS Indonesia Audiensi ke STTKD Yogyakarta — TechnoGIS Indonesia melaksanakan kunjungan audiensi ke Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta pada Selasa, 30 April 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi sekaligus membuka ruang kolaborasi di bidang pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi, khususnya dalam lingkup tridarma perguruan tinggi.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak berdiskusi mengenai potensi kerja sama (MoU) dalam pelaksanaan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat, dengan fokus pada pengembangan teknologi aeromodeling dan aplikasinya di dunia industri dan pendidikan.

Audiensi ini juga menjadi ajang pertukaran gagasan terkait bagaimana integrasi teknologi geospasial dan kedirgantaraan dapat mendukung inovasi di sektor pendidikan tinggi, terutama dalam mengembangkan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi penerbangan ringan dan pesawat tanpa awak.

TechnoGIS Indonesia menyambut baik inisiatif STTKD dalam membangun kerja sama lintas bidang dan berharap diskusi ini menjadi awal dari kolaborasi jangka panjang yang mendukung kemajuan pendidikan tinggi berbasis teknologi di Indonesia.

Melalui audiensi ini, TechnoGIS Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung dunia pendidikan melalui sinergi dengan institusi yang berfokus pada pengembangan sains, teknologi, dan inovasi di bidang kedirgantaraan.