Pos

Tutorial Membuat Peta Dengan Supermap

Tutorial Membuat Peta Dengan Supermap – Kali ini TechnoGIS Indonesia akan membagi tutorial untuk membuat peta dengan menggunakan supermap, bagi yang belum mengenal supermap silahan baca : Pengenalan Software Supermap. tutorial ini akan dibagi menjadi beberapa part sesuai tahapan dari pembuatan peta itu sendiri. silahkan baca step-step dibawah ini untuk membuat peta dengan supermap :

Tutorial Membuat Projek Supermap
Dalam tahapan pertama pembutan peta adalah mengawali dengan membuat sebuah projek di software Supermap

Tutorial Digitasi Menggunakan Dengan Supermap
Dalam tahap ini kita akan melakukan digitasi dari data non spasial menjadi data spasial yang sudah tergeorefernsing sesuai dengan koordinat dibumi.

Tutorial Membuat Simbologi Dengan Supermap
Setelah kita memiliki data spasial saatnya kita melakukan simbologi agar peta kita dapat menyampaikan informasi yang ada.

Tutorial Membuat Layout Dengan Supermap
Dalam tahap ini kita akan membuat layout printing peta kita sesuai kaidah kartografis dalam unsur penyajian peta agar peta kita dapat tersampaikan informasinya ke pembaca / pengguna peta.

Tutorial Export Peta ke Berbagai Format Dengan Supermap
Tahap terakhir adalah export peta yang telah kita buat agar dapat di cetak.

Dalam tutorial dasar ini menggunakan supermap untuk menjadi output peta secara utuh, harap mengikuti tutorial secara bertahap dan runtut. dalam tutorial Tutorial Membuat Peta Dengan Supermap ini belum dilengkapi analisis spasial, untuk analisis spasial akan di tulis dalam tutorial tingkat lanjut. semoga tutorial ini dapat membantu anda dalam pembuatan peta dasar maupun tematik anda.

Pelatihan Private GIS Basic – Advanced Bappeda Kutai Timur

Pelatihan Private GIS Basic – Advanced Bappeda Kutai Timur – Kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu melakukan analisis keruangan dewasa ini semakin dibutuhkan. Tidak terkecuali bagi pemerintahan daerah, kebutuhan SDM tersebut sangatlah penting mengingat penguasaan Sistem Informasi Geografis merupakan bidang yang sangat spesifik.

Pada tanggal 3 Juli – 8 Juli 2017, salah satu civitas Bappeda Kutai Timur  telah melakukan pelatihan private GIS Basic – Advanced di TechnoGIS Indonesia. Pelatihan ditunjukkan untuk meningkatkan kemampuan dalam pengelolaan data spasial.

Pelatihan Workshop SIG Dasar PT. J Resources Bolaang Mongondow

Pelatihan Workshop SIG Dasar PT. J Resources Bolaang Mongondow – Pelatihan SG Dasar yang diselenggarakan pada tanggal 3 – 6 Juli 2017 dihadiri oleh 2 peserta. Pengenalan SIG dan cara membuat peta yang baik merupakan materi pokok pelatihan SIG Dasar. Pembuatan peta dengan dibekali konsep mendasar sangatlah penting mengingat kaidah pemetaan menjadi pertimbangan dalam pembuatan peta yang baik. Terlebih lagi bagi peserta yang memiliki latar belakang pertambangan seperti klien periode 2 – 6 Juli 2017 yakni PT. J Resource, pemetaan merupakan hal yang penting. Oleh sebab itu tujuan utama dari pelatihan ini adalah pengembangan SDM yang mampu melakukan analisis spasial dasar.

 

Peta, Kartografi, dan SIG

Peta, Kartografi, dan SIG – Pemikiran seseorang mengenai sesuatu yang memiliki posisi dapat dikategorikan sebagai salah satu jenis informasi spasial. Penuangan informasi spasial tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan gambaran visual dari suatu realita. Replika dari informasi spasial yang telah dibangun dapat di sebut dengan peta. Peta dapat juga diartikan sebagai gambaran dari permukaan bumi atau fenomena geosfer. Informasi yang dapat dipetakan memiliki syarat bersifat spasial memiliki posisi, baik relatif maupun absolut.

Kembali lagi pada topik sebelumnya, informasi spasial yang terdapat pada pikiran manusia juga dapat dipetakan. Sebagai contoh sederhana adalah pembuatan peta lokasi yang mencangkup rute rumah menuju rumah sakit. Secara sadar, seseorang memiliki ingatan terhadap lokasi suatu objek (site) dan mengkaitkannya dengan objek lain (association). Ingatan itu disebut dengan informasi, sedangkan objek yang ada pada informasi tersebut memiliki lokasi sehingga bersifat spasial. Informasi spasial terkait rute rumah ke rumah sakit dapat digambarkan secara  visual dalam bentuk peta sederhana atau disebut dengan peta mental (peta kognitif).

Peta Mental

Gambar 1. Peta Mental

Peta seperti Gambar 1 merupakan peta sederhana namun tidak memiliki informasi tambahan lain yang penting pada peta. Peta tersebut belum memenuhi kaidah pemetaan namun sudah cukup komunikatif dalam penyampain informasi sederhana. Apabila informasi yang akan dituangkan lebih banyak dan kompleks, seperti informasi penggunaan lahan suatu desa, maka peta seperti Gambar 1 tidak mampu merepresentasikannya. Oleh karenanya, pembuatan peta yang baik tidak dapat dilakukan sembarangan dan membutuhkan ilmu dalam bidangnya.

Kartografi dan Peta

Ilmu pembuatan peta disebut dengan Kartografi, dimana ilmu dan seni digabung menjadi satu untuk menghasilkan peta yang baik dan memiliki nilai estetika. Kartografi sering dikaitkan dengan salah satu ilmu yang berkaitan dengan ilmu Bumi. Perkembangan kartografi sudah sangat pesat dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan (baca : Perkembangan Peta dan Kartografi Hingga Saat Ini).  Peta itu sendiri dibagi menjadi dua jenis yaitu peta dasar dan peta tematik. Peta dasar merupakan peta baku yang diterbitkan oleh pemerintah dimana informasi yang terkandung di dalamnya merupakan informasi umum sertaa dapat menjadi acuan yang sah untuk melakukan pemetaan ataupun analisis selanjutnya. Berbeda dengan peta dasar, peta tematik membawa tema atau topik sendiri mengenai suatu fenomena sebagai informasi utamanya. Peta tematik dapat dibuat oleh umum.

Dalam ilmu kartografi, dijelaskan beberapa kaidah yang perlu diperhatikan untuk membuat peta yang baik. Beberapa informasi tambahan yang perlu ada dalam sebuah peta adalah :

  • Judul, biasa digunakan topik/tema dan atau lokasi wilayah yang dipetakan. Judul memberikan gambaran awal kepada pengguna peta mengenai informasi yang tercantum di dalamnya.
  • Grid/Graticule, sistem grid berkaitan dengan sistem koordinat yang digunakan untuk mempermudah pengguna peta menemukan dan menentukan lokasi absolut objek tertentu.
  • Legenda, merupakan dekripsi dari simbol-simbol yang digunakan pada isi/muka peta untuk mempermudah pengguna untuk menafsirkan informasi pada peta.
  • Skala, penting untuk mencantumkan skala numerik (angka) dan atau skala grafis (bar) sebagai informasi perbesaran dan dapat digunakan untuk mengukur akurasi peta tersebut.
  • Orientasi Mata Angin, membantu memberikan orientasi kepada pengguna. Peta tidak harus menggunakan orientasi utara menghadap ke atas, namun lazimnya peta buatan Indonesia menggunakan orientasi utara ke arah atas.
  • Inset Peta, adalah zoom out peta tersebut untuk mengetahui lokasi yang dipetakan dan asosiasi lokasi wilayah kajian.
  • Diagram lokasi, untuk beberapa peta yang terbagi menjadi beberapa lembar perlu untuk dicantumkan sebagai penuntun orientasi wilayah kajian.
  • Informasi tambahan lainnya, berupa informasi datum dan sistem proyeksi yang digunakan, sumber data pembuatan peta, pembuat/penerbit peta, serta riwayat peta.

Dalam pembuatan peta dasar, terdapat kaidah lainnya yang harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). SNI dibedakan berdasarkan jenis peta dasar dan skalanya. Adapun SNI lainnya yang mengatur tentang cara perolehan data atau sumber data yang digunakan untuk pemetaan. Pada SNI tersebut, akan dijelaskan simbologi pada muka peta hingga tata letak peta dasar. Format tersebut sudah menjadi format yang baku di Indonesia. Namun pada peta tematik, belum ada ketentuan khusus mengenai simbolisasi hingga tata letak peta. Selama peta tematik mampu mengkomunikasikan informasi peta dengan baik dan benar,serta memiliki estetika yang indah, peta tersebut dianggap baik.

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Dewasa ini, pembuatan peta telah banyak dikembangkan hingga merambah ke dunia digital. Salah satu bidang keilmuan yang memiliki korelasi dengan aplikasi kartografi adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengubah suatu data spasial menjadi informasi spasial. SIG dapat dilakukan secara manual maupun digital. SIG secara manual dilakukan dengan melakukan tumpang susun (overlay) beberapa peta berinformasi tunggal dengan menggunakan bantuan kertas transparan atau kalkir. Hasil dari overlay tersebut di pisahkan berdasarkan kategori secara manual kemudian dilakukan analisis.

Perkembangan jaman ke era digital memberikan pilihan kemudahan dalam mengaplikasikan SIG. Berbagai produk perangkat lunak pemrosesan SIG telah banyak beredar, baik yang berbayar maupun yang tidak (open source). Masing-masing perangkat lunak tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan (baca : Perbandingan Software SIG Berbayar dan Open Source). Pemilihan perangkat yang digunakan didasarkan pada tujuan dan kebutuhan masing-masing individu. Keuntungan utama menggunakan perangkat lunak SIG adalah memudahkan dalam analisis maupun pembuatan peta. Cara membuat peta sederhana dapat dilakukan mandiri dengan acuan Tutorial Pembuatan Peta Sederhana yang Baik Menggunakan ArcMap 10.1.

SIG memiliki banyak peran, tidak hanya membantu dalam pemetaan, namun dapat digunakan untuk melakukan pemodelan spasial baik yang bersifat 2D maupun 3D. Pada beberapa software berbayar, pemodelan juga dilengkapi oleh tool pembuatan animasi (model dinamis). Dengan menerapkan aplikasi SIG, analisis spasial lebih mudah dilakukan. Beberapa analisis yang sering dilakukan dengan SIG antara lain analisis multitemporal, analisis cluster, analisis jaringan spasial, dan analisis melalui model 3D.

Untuk lebih meningkatkan skill dalam mengoperasikan aplikasi SIG dan membuat peta/model yang baik, bisa bergabung dalam pelatihan SIG dasar dan SIG Lanjut yang diselenggarakan oleh TechnoGIS. Informasi lebih lengkap dan reservasi dapat dilakukan disini.

Perkembangan Peta dan Kartografi Hingga Saat Ini

Perkembangan Peta dan Kartografi Hingga Saat Ini – Sebelum memasuki pembahasan mengenai perkembangan peta, pengertian mengenai peta dan kartografi harus dipahami terlebih dahulu. Penjelasan mengenai pengertiannya dapat dibaca disini , sedangkan untuk teknik pembuatan peta bisa ikuti pelatihan pembuatan peta disini.

Periode Awal

Pengetahuan mengenai teknik menggambar lokasi atau sesuatu yang menunjukkan suatu tempat sudah ada sejak 2300 SM oleh bangsa Babilonia. Pada mulanya peta digambarkan pada batu atau tanah liat berukuran kecil sebagai petunjuk arah. Namun pada zaman Yunani Kuno, perkembangan peta sangat pesat. Adanya penemuan teori yang menyatakan Bumi itu bulat oleh Aristoteles semakin mendorong pembuatan peta yang semakin baik. Pada periode ini, peta masih dibuat dengan tulisan tangan.

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, perkembangan pembuatan peta pun mulai memasuki ranah matematis. Pengukuran jarak pun dijadikan salah satu alasan untuk mengubah peta yang dibuat menjadi sesuatu yang memiliki nilai absolut. Pada masa ini, penggunaan skala dalam merepresentasikan gambaran peta sudah mulai digunakan. Tepatnya pada pada tahun 150 SM, peta dunia pertama yang memiliki bentuk kerucut dengan menggunakan garis khayal yang membagi Bumi menjadi beberapa bagian berdasarkan garis tertutup melintang dari sisi barat ke timur melingkari Bumi yang disebut dengan garis Lintang. Peta tersebut diterbitkan oleh seorang ahli geografi bernama Ptolemeus. Sejak saat itu, ilmu Geografi, khususnya pembuatan peta atau kartografi menjadi berkembang lebih pesat.

peta karya ptolemeus

Gambar 1. Peta Dunia Pertama Karta Ptolemeus

Periode Pertengahan

Pada periode pertengahan, lebih tepatnya abad ke 15 – 17, perkembangan peta menjadi lebih maju. Pembuatan peta pada abad ini masih menggunakan tangan dan disebarluaskan secara terbatas. Tidak jarang masih banyak kesalahan-kesalahan yang terdapa pada peta seperti informasi orientasi yang tidak sesuai atau skala yang tidak ptoporsional. Hal tersebut dikarenakan masih minimnya peralatan yang digunakan sehingga semua bergantung pada ingatan dan imajinasi kartografer yang membuatnya. Namun peta-peta yang dihasilkan pada periode ini memiliki nilai seni yang tinggi. Sistem pewarnaan dan teknik penggambaran menghasilkan peta yang sangat artistik.

Gambar 2. Salah satu peta pada periode pertengahan

Periode Modern

Memasuki periode modern, yakni diatas abad ke-17, perkembangan peta mulai memperhatikan akurasi dan presisi objek yang digambarkan. Seiring dengan perkembangan zaman ke era digital, pembuatan peta pun beralih menggunakan berbagai peralatan. Perkembangan awal digitalisasi peta adalah dengan menggunakan bantuan meja digitizer, dimana meja tersebut dikoneksikan pada perangkat lunak pengolahan peta dan perangkat keras komputer. Digitasi dilakukan dengan menggunakan mouse pen dengan hasil digitasi dapat di lihat pada layar monitor komputer. Namun pada saat ini, penggunaan meja digitizer telah banyak ditinggalkan, karena dianggap kurang praktis. Saat ini lebih banyak pembuatan peta dengan menggunakan on screen digitatioyang berbekal layar monitor komputer atau komputer nirkabel dan mouse. Jika dilihat dari segi kepraktisannya, memang digitasi on screen lebih banyak memberikan kemudahan, terlebih meja digitizer tidak dapat di praktis untuk dibawa berpindah-pindah tempat. Namun dari segi ketelitiannya, meja digitizer memiliki ketelitian yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan digitasi pada layar.

Perkembangan tersebut diiringi dengan perkembangan SIG dan Penginderaan Jauh (PJ) sebagai patner yang digunakan dalam pembuatan peta. Pemrosesan SIG dan PJ berkaitan erat dengan pengubahan sumber data spasial menjadi suatu informasi spasial pada peta. Informasi-informasi yang digunakan pada peta saat ini pun lebih kompleks dan terstruktur jika dibandingkan dengan peta-peta pada periode pertengahan atau awal.

Tertarik untuk mempelajari pembuatan peta?Ayo gabung dengan kami di Pelatihan TechnoGIS Indonesia. Ada berbagai pilihan pelatihan dengan materi yang lengkap. Jangan lewatkan promo-promo serunya, hanya di TechnoGIS. Untuk pertanyaan dan reservasi, dapat hubungi kontak kami di info@technogis.co.id atau melalui live chat kami disini.

Jasa Pemetaan GIS

Sains Informasi Geografi (SIG) merupakan system informasi yang mengelola seluruh informasi spasial. SIG banyak digunakan di berbagai bidang dan berbagai kalangan terutama untuk kalangan yang menggunakan analisis kewilayahan. Banyak instansi, lembaga maupun perusahaan membutuhkan GIS untuk membantu dalam pengambilan keputusan maupun perencanaan.
Seiring dengan perkembangan waktu pemanfaatan GIS semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. GIS banyak dimanfaatkan dalam bidang pembangunan, pertanian, kesehatan, social, kebencanaan, pertanian dan dalam bidang pembangunan lainnya. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan mempelajari GIS, selain dalam hal pemetaan GIS juga mempunyai peran penting untuk membantu mengidentifikasi sumberdaya alam, pengelolaan pasca bencana hingga penentuan kebijakan dalam hal pembangunan. Oleh karena itu, dengan adanya beberapa hal di atas, pelatihan GIS harapannya dapat membantu memberikan solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada dan dapat dengan mudah mengetahui lokasi maupun perseberan sumber daya.

 

Gambar 2.1 Survei Terestris (Sumber: Google)

GIS dan Penginderaan Jauh tentunya juga sangat berkaitan. Salah satu metode yang digunakan dari keduanya adalah Terestris Survey. Terestris survey merupakan pengambilan data lapangan yang nantinya dapat digunakan untuk memperoleh data kontur atau topografi yang dapat digunakan untuk membuat peta topografi. Manfaat dari terestris survey ini tentunya sangat beragam salah satunya adalah pembuatan profil memanjang dan melintang, pembuatan peta topografi dan masih banyak lagi yang lainnya.

PRICE LIST JASA PEMETAAN

Service ID Number Service Type Description Unit Price Per Unit Min Unit
20101 Digitasi Peta Skala 1 : 25.000 layer/sheet  Call/Hubungi Kami 1
20102 Digitasi Peta Skala 1 : 10.000 layer/sheet  Call/Hubungi Kami 1
20103 Digitasi Peta Skala 1 : 5.000 layer/sheet  Call/Hubungi Kami 1
20104 Digitasi Peta Skala 1 : 2.500 layer/sheet  Call/Hubungi Kami 1
20105 Digitasi Peta Skala 1 : 1.000 sq m/layer  Call/Hubungi Kami 10000
20201 Interpretasi (Level I-II)/Digitasi Citra Resolusi Menengah A Skala 1 : 50.000 layer/scene  Call/Hubungi Kami 1
20202 Interpretasi (Level II)/Digitasi Citra Resolusi Menengah B Skala 1 : 25.000 layer/scene  Call/Hubungi Kami 1
20203 Interpretasi Semi Detil (Level III)/Digitasi Citra Reolusi Tinggi A Skala 1 : 10.000 sq km/layer  Call/Hubungi Kami 50
20204 Interpretasi Detil/Digitasi Citra Resolusi Tinggi B Skala 1 : 5.000 sq km/layer  Call/Hubungi Kami 100
20205 Interpretasi Detil/Digitasi Citra Resolusi Tinggi C Skala 1 : 2.500 sq km/layer  Call/Hubungi Kami 100
20206 Interpretasi Detil/Digitasi Citra Resolusi Tinggi D Skala 1 : 1.000 sq km/layer  Call/Hubungi Kami 100
20207 Interpretasi Tematik dari Ortofoto/Citra Klasifikasi digital dan teknik digitasi on screen, maksimal 3 layer Ha  Call/Hubungi Kami 1000
20208 Interpretasi Custom Seperti : counting tree, landuse change, coastal line change,etc. Jumlah layer 1 Ha  Call/Hubungi Kami 1000
30201 Jasa Pembuatan Topografi, Model 3D, Volumetrik~ DSM grid 1-3m, skala 1:10.000-1:2.500, khusus pemesan produk orthophoto Ha  Call/Hubungi Kami 350
30202 Jasa Pembuatan Topografi, Model 3D, Volumetrik DSM grid 1-3m, skala 1:10.000-1:2.500 Ha  Call/Hubungi Kami 350
30203 Jasa Pembuatan Topografi, Model 3D, Volumetrik GDEM DSM dari SRTM/ASTER GDEM, skala 1:100.000 – 1:50.000, Elipsoid WGS 1984 Ha  Call/Hubungi Kami 1000
40201 Jasa Survei dan Pemetaan Custom Custom  Call/Hubungi Kami
50201 Jasa Survei Pengukuran GPS Geodetic Per Titik  Call/Hubungi Kami 1
50202 Jasa Survei Pengukuran Sipat Datar km  Call/Hubungi Kami 2
50203 Jasa Survei Pengukuran Sipat Datar Teliti km  Call/Hubungi Kami 2
50204 Pengolahan Data Hasil Survei GPS Per Titik  Call/Hubungi Kami 10
50205 Pengolahan Data Hasil Survei Pasang Surut Data 1 bulan Per Statiun  Call/Hubungi Kami 1

*(Untuk informasi lebih lanjut mengenai Survei Terestris dapat menghubungi kami)

Portfolio Items

Laman

Tutorial Membuat Peta Dengan Supermap

Tutorial Membuat Peta Dengan Supermap – Kali ini TechnoGIS Indonesia akan membagi tutorial untuk membuat peta dengan menggunakan supermap, bagi yang belum mengenal supermap silahan baca : Pengenalan Software Supermap. tutorial ini akan dibagi menjadi beberapa part sesuai tahapan dari pembuatan peta itu sendiri. silahkan baca step-step dibawah ini untuk membuat peta dengan supermap :

Tutorial Membuat Projek Supermap
Dalam tahapan pertama pembutan peta adalah mengawali dengan membuat sebuah projek di software Supermap

Tutorial Digitasi Menggunakan Dengan Supermap
Dalam tahap ini kita akan melakukan digitasi dari data non spasial menjadi data spasial yang sudah tergeorefernsing sesuai dengan koordinat dibumi.

Tutorial Membuat Simbologi Dengan Supermap
Setelah kita memiliki data spasial saatnya kita melakukan simbologi agar peta kita dapat menyampaikan informasi yang ada.

Tutorial Membuat Layout Dengan Supermap
Dalam tahap ini kita akan membuat layout printing peta kita sesuai kaidah kartografis dalam unsur penyajian peta agar peta kita dapat tersampaikan informasinya ke pembaca / pengguna peta.

Tutorial Export Peta ke Berbagai Format Dengan Supermap
Tahap terakhir adalah export peta yang telah kita buat agar dapat di cetak.

Dalam tutorial dasar ini menggunakan supermap untuk menjadi output peta secara utuh, harap mengikuti tutorial secara bertahap dan runtut. dalam tutorial Tutorial Membuat Peta Dengan Supermap ini belum dilengkapi analisis spasial, untuk analisis spasial akan di tulis dalam tutorial tingkat lanjut. semoga tutorial ini dapat membantu anda dalam pembuatan peta dasar maupun tematik anda.

Pelatihan Private GIS Basic – Advanced Bappeda Kutai Timur

Pelatihan Private GIS Basic – Advanced Bappeda Kutai Timur – Kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu melakukan analisis keruangan dewasa ini semakin dibutuhkan. Tidak terkecuali bagi pemerintahan daerah, kebutuhan SDM tersebut sangatlah penting mengingat penguasaan Sistem Informasi Geografis merupakan bidang yang sangat spesifik.

Pada tanggal 3 Juli – 8 Juli 2017, salah satu civitas Bappeda Kutai Timur  telah melakukan pelatihan private GIS Basic – Advanced di TechnoGIS Indonesia. Pelatihan ditunjukkan untuk meningkatkan kemampuan dalam pengelolaan data spasial.

Pelatihan Workshop SIG Dasar PT. J Resources Bolaang Mongondow

Pelatihan Workshop SIG Dasar PT. J Resources Bolaang Mongondow – Pelatihan SG Dasar yang diselenggarakan pada tanggal 3 – 6 Juli 2017 dihadiri oleh 2 peserta. Pengenalan SIG dan cara membuat peta yang baik merupakan materi pokok pelatihan SIG Dasar. Pembuatan peta dengan dibekali konsep mendasar sangatlah penting mengingat kaidah pemetaan menjadi pertimbangan dalam pembuatan peta yang baik. Terlebih lagi bagi peserta yang memiliki latar belakang pertambangan seperti klien periode 2 – 6 Juli 2017 yakni PT. J Resource, pemetaan merupakan hal yang penting. Oleh sebab itu tujuan utama dari pelatihan ini adalah pengembangan SDM yang mampu melakukan analisis spasial dasar.

 

Peta, Kartografi, dan SIG

Peta, Kartografi, dan SIG – Pemikiran seseorang mengenai sesuatu yang memiliki posisi dapat dikategorikan sebagai salah satu jenis informasi spasial. Penuangan informasi spasial tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan gambaran visual dari suatu realita. Replika dari informasi spasial yang telah dibangun dapat di sebut dengan peta. Peta dapat juga diartikan sebagai gambaran dari permukaan bumi atau fenomena geosfer. Informasi yang dapat dipetakan memiliki syarat bersifat spasial memiliki posisi, baik relatif maupun absolut.

Kembali lagi pada topik sebelumnya, informasi spasial yang terdapat pada pikiran manusia juga dapat dipetakan. Sebagai contoh sederhana adalah pembuatan peta lokasi yang mencangkup rute rumah menuju rumah sakit. Secara sadar, seseorang memiliki ingatan terhadap lokasi suatu objek (site) dan mengkaitkannya dengan objek lain (association). Ingatan itu disebut dengan informasi, sedangkan objek yang ada pada informasi tersebut memiliki lokasi sehingga bersifat spasial. Informasi spasial terkait rute rumah ke rumah sakit dapat digambarkan secara  visual dalam bentuk peta sederhana atau disebut dengan peta mental (peta kognitif).

Peta Mental

Gambar 1. Peta Mental

Peta seperti Gambar 1 merupakan peta sederhana namun tidak memiliki informasi tambahan lain yang penting pada peta. Peta tersebut belum memenuhi kaidah pemetaan namun sudah cukup komunikatif dalam penyampain informasi sederhana. Apabila informasi yang akan dituangkan lebih banyak dan kompleks, seperti informasi penggunaan lahan suatu desa, maka peta seperti Gambar 1 tidak mampu merepresentasikannya. Oleh karenanya, pembuatan peta yang baik tidak dapat dilakukan sembarangan dan membutuhkan ilmu dalam bidangnya.

Kartografi dan Peta

Ilmu pembuatan peta disebut dengan Kartografi, dimana ilmu dan seni digabung menjadi satu untuk menghasilkan peta yang baik dan memiliki nilai estetika. Kartografi sering dikaitkan dengan salah satu ilmu yang berkaitan dengan ilmu Bumi. Perkembangan kartografi sudah sangat pesat dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan (baca : Perkembangan Peta dan Kartografi Hingga Saat Ini).  Peta itu sendiri dibagi menjadi dua jenis yaitu peta dasar dan peta tematik. Peta dasar merupakan peta baku yang diterbitkan oleh pemerintah dimana informasi yang terkandung di dalamnya merupakan informasi umum sertaa dapat menjadi acuan yang sah untuk melakukan pemetaan ataupun analisis selanjutnya. Berbeda dengan peta dasar, peta tematik membawa tema atau topik sendiri mengenai suatu fenomena sebagai informasi utamanya. Peta tematik dapat dibuat oleh umum.

Dalam ilmu kartografi, dijelaskan beberapa kaidah yang perlu diperhatikan untuk membuat peta yang baik. Beberapa informasi tambahan yang perlu ada dalam sebuah peta adalah :

  • Judul, biasa digunakan topik/tema dan atau lokasi wilayah yang dipetakan. Judul memberikan gambaran awal kepada pengguna peta mengenai informasi yang tercantum di dalamnya.
  • Grid/Graticule, sistem grid berkaitan dengan sistem koordinat yang digunakan untuk mempermudah pengguna peta menemukan dan menentukan lokasi absolut objek tertentu.
  • Legenda, merupakan dekripsi dari simbol-simbol yang digunakan pada isi/muka peta untuk mempermudah pengguna untuk menafsirkan informasi pada peta.
  • Skala, penting untuk mencantumkan skala numerik (angka) dan atau skala grafis (bar) sebagai informasi perbesaran dan dapat digunakan untuk mengukur akurasi peta tersebut.
  • Orientasi Mata Angin, membantu memberikan orientasi kepada pengguna. Peta tidak harus menggunakan orientasi utara menghadap ke atas, namun lazimnya peta buatan Indonesia menggunakan orientasi utara ke arah atas.
  • Inset Peta, adalah zoom out peta tersebut untuk mengetahui lokasi yang dipetakan dan asosiasi lokasi wilayah kajian.
  • Diagram lokasi, untuk beberapa peta yang terbagi menjadi beberapa lembar perlu untuk dicantumkan sebagai penuntun orientasi wilayah kajian.
  • Informasi tambahan lainnya, berupa informasi datum dan sistem proyeksi yang digunakan, sumber data pembuatan peta, pembuat/penerbit peta, serta riwayat peta.

Dalam pembuatan peta dasar, terdapat kaidah lainnya yang harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). SNI dibedakan berdasarkan jenis peta dasar dan skalanya. Adapun SNI lainnya yang mengatur tentang cara perolehan data atau sumber data yang digunakan untuk pemetaan. Pada SNI tersebut, akan dijelaskan simbologi pada muka peta hingga tata letak peta dasar. Format tersebut sudah menjadi format yang baku di Indonesia. Namun pada peta tematik, belum ada ketentuan khusus mengenai simbolisasi hingga tata letak peta. Selama peta tematik mampu mengkomunikasikan informasi peta dengan baik dan benar,serta memiliki estetika yang indah, peta tersebut dianggap baik.

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Dewasa ini, pembuatan peta telah banyak dikembangkan hingga merambah ke dunia digital. Salah satu bidang keilmuan yang memiliki korelasi dengan aplikasi kartografi adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengubah suatu data spasial menjadi informasi spasial. SIG dapat dilakukan secara manual maupun digital. SIG secara manual dilakukan dengan melakukan tumpang susun (overlay) beberapa peta berinformasi tunggal dengan menggunakan bantuan kertas transparan atau kalkir. Hasil dari overlay tersebut di pisahkan berdasarkan kategori secara manual kemudian dilakukan analisis.

Perkembangan jaman ke era digital memberikan pilihan kemudahan dalam mengaplikasikan SIG. Berbagai produk perangkat lunak pemrosesan SIG telah banyak beredar, baik yang berbayar maupun yang tidak (open source). Masing-masing perangkat lunak tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan (baca : Perbandingan Software SIG Berbayar dan Open Source). Pemilihan perangkat yang digunakan didasarkan pada tujuan dan kebutuhan masing-masing individu. Keuntungan utama menggunakan perangkat lunak SIG adalah memudahkan dalam analisis maupun pembuatan peta. Cara membuat peta sederhana dapat dilakukan mandiri dengan acuan Tutorial Pembuatan Peta Sederhana yang Baik Menggunakan ArcMap 10.1.

SIG memiliki banyak peran, tidak hanya membantu dalam pemetaan, namun dapat digunakan untuk melakukan pemodelan spasial baik yang bersifat 2D maupun 3D. Pada beberapa software berbayar, pemodelan juga dilengkapi oleh tool pembuatan animasi (model dinamis). Dengan menerapkan aplikasi SIG, analisis spasial lebih mudah dilakukan. Beberapa analisis yang sering dilakukan dengan SIG antara lain analisis multitemporal, analisis cluster, analisis jaringan spasial, dan analisis melalui model 3D.

Untuk lebih meningkatkan skill dalam mengoperasikan aplikasi SIG dan membuat peta/model yang baik, bisa bergabung dalam pelatihan SIG dasar dan SIG Lanjut yang diselenggarakan oleh TechnoGIS. Informasi lebih lengkap dan reservasi dapat dilakukan disini.

Perkembangan Peta dan Kartografi Hingga Saat Ini

Perkembangan Peta dan Kartografi Hingga Saat Ini – Sebelum memasuki pembahasan mengenai perkembangan peta, pengertian mengenai peta dan kartografi harus dipahami terlebih dahulu. Penjelasan mengenai pengertiannya dapat dibaca disini , sedangkan untuk teknik pembuatan peta bisa ikuti pelatihan pembuatan peta disini.

Periode Awal

Pengetahuan mengenai teknik menggambar lokasi atau sesuatu yang menunjukkan suatu tempat sudah ada sejak 2300 SM oleh bangsa Babilonia. Pada mulanya peta digambarkan pada batu atau tanah liat berukuran kecil sebagai petunjuk arah. Namun pada zaman Yunani Kuno, perkembangan peta sangat pesat. Adanya penemuan teori yang menyatakan Bumi itu bulat oleh Aristoteles semakin mendorong pembuatan peta yang semakin baik. Pada periode ini, peta masih dibuat dengan tulisan tangan.

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, perkembangan pembuatan peta pun mulai memasuki ranah matematis. Pengukuran jarak pun dijadikan salah satu alasan untuk mengubah peta yang dibuat menjadi sesuatu yang memiliki nilai absolut. Pada masa ini, penggunaan skala dalam merepresentasikan gambaran peta sudah mulai digunakan. Tepatnya pada pada tahun 150 SM, peta dunia pertama yang memiliki bentuk kerucut dengan menggunakan garis khayal yang membagi Bumi menjadi beberapa bagian berdasarkan garis tertutup melintang dari sisi barat ke timur melingkari Bumi yang disebut dengan garis Lintang. Peta tersebut diterbitkan oleh seorang ahli geografi bernama Ptolemeus. Sejak saat itu, ilmu Geografi, khususnya pembuatan peta atau kartografi menjadi berkembang lebih pesat.

peta karya ptolemeus

Gambar 1. Peta Dunia Pertama Karta Ptolemeus

Periode Pertengahan

Pada periode pertengahan, lebih tepatnya abad ke 15 – 17, perkembangan peta menjadi lebih maju. Pembuatan peta pada abad ini masih menggunakan tangan dan disebarluaskan secara terbatas. Tidak jarang masih banyak kesalahan-kesalahan yang terdapa pada peta seperti informasi orientasi yang tidak sesuai atau skala yang tidak ptoporsional. Hal tersebut dikarenakan masih minimnya peralatan yang digunakan sehingga semua bergantung pada ingatan dan imajinasi kartografer yang membuatnya. Namun peta-peta yang dihasilkan pada periode ini memiliki nilai seni yang tinggi. Sistem pewarnaan dan teknik penggambaran menghasilkan peta yang sangat artistik.

Gambar 2. Salah satu peta pada periode pertengahan

Periode Modern

Memasuki periode modern, yakni diatas abad ke-17, perkembangan peta mulai memperhatikan akurasi dan presisi objek yang digambarkan. Seiring dengan perkembangan zaman ke era digital, pembuatan peta pun beralih menggunakan berbagai peralatan. Perkembangan awal digitalisasi peta adalah dengan menggunakan bantuan meja digitizer, dimana meja tersebut dikoneksikan pada perangkat lunak pengolahan peta dan perangkat keras komputer. Digitasi dilakukan dengan menggunakan mouse pen dengan hasil digitasi dapat di lihat pada layar monitor komputer. Namun pada saat ini, penggunaan meja digitizer telah banyak ditinggalkan, karena dianggap kurang praktis. Saat ini lebih banyak pembuatan peta dengan menggunakan on screen digitatioyang berbekal layar monitor komputer atau komputer nirkabel dan mouse. Jika dilihat dari segi kepraktisannya, memang digitasi on screen lebih banyak memberikan kemudahan, terlebih meja digitizer tidak dapat di praktis untuk dibawa berpindah-pindah tempat. Namun dari segi ketelitiannya, meja digitizer memiliki ketelitian yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan digitasi pada layar.

Perkembangan tersebut diiringi dengan perkembangan SIG dan Penginderaan Jauh (PJ) sebagai patner yang digunakan dalam pembuatan peta. Pemrosesan SIG dan PJ berkaitan erat dengan pengubahan sumber data spasial menjadi suatu informasi spasial pada peta. Informasi-informasi yang digunakan pada peta saat ini pun lebih kompleks dan terstruktur jika dibandingkan dengan peta-peta pada periode pertengahan atau awal.

Tertarik untuk mempelajari pembuatan peta?Ayo gabung dengan kami di Pelatihan TechnoGIS Indonesia. Ada berbagai pilihan pelatihan dengan materi yang lengkap. Jangan lewatkan promo-promo serunya, hanya di TechnoGIS. Untuk pertanyaan dan reservasi, dapat hubungi kontak kami di info@technogis.co.id atau melalui live chat kami disini.

Jasa Pemetaan GIS

Sains Informasi Geografi (SIG) merupakan system informasi yang mengelola seluruh informasi spasial. SIG banyak digunakan di berbagai bidang dan berbagai kalangan terutama untuk kalangan yang menggunakan analisis kewilayahan. Banyak instansi, lembaga maupun perusahaan membutuhkan GIS untuk membantu dalam pengambilan keputusan maupun perencanaan.
Seiring dengan perkembangan waktu pemanfaatan GIS semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. GIS banyak dimanfaatkan dalam bidang pembangunan, pertanian, kesehatan, social, kebencanaan, pertanian dan dalam bidang pembangunan lainnya. Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan mempelajari GIS, selain dalam hal pemetaan GIS juga mempunyai peran penting untuk membantu mengidentifikasi sumberdaya alam, pengelolaan pasca bencana hingga penentuan kebijakan dalam hal pembangunan. Oleh karena itu, dengan adanya beberapa hal di atas, pelatihan GIS harapannya dapat membantu memberikan solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada dan dapat dengan mudah mengetahui lokasi maupun perseberan sumber daya.

 

Gambar 2.1 Survei Terestris (Sumber: Google)

GIS dan Penginderaan Jauh tentunya juga sangat berkaitan. Salah satu metode yang digunakan dari keduanya adalah Terestris Survey. Terestris survey merupakan pengambilan data lapangan yang nantinya dapat digunakan untuk memperoleh data kontur atau topografi yang dapat digunakan untuk membuat peta topografi. Manfaat dari terestris survey ini tentunya sangat beragam salah satunya adalah pembuatan profil memanjang dan melintang, pembuatan peta topografi dan masih banyak lagi yang lainnya.

PRICE LIST JASA PEMETAAN

Service ID Number Service Type Description Unit Price Per Unit Min Unit
20101 Digitasi Peta Skala 1 : 25.000 layer/sheet  Call/Hubungi Kami 1
20102 Digitasi Peta Skala 1 : 10.000 layer/sheet  Call/Hubungi Kami 1
20103 Digitasi Peta Skala 1 : 5.000 layer/sheet  Call/Hubungi Kami 1
20104 Digitasi Peta Skala 1 : 2.500 layer/sheet  Call/Hubungi Kami 1
20105 Digitasi Peta Skala 1 : 1.000 sq m/layer  Call/Hubungi Kami 10000
20201 Interpretasi (Level I-II)/Digitasi Citra Resolusi Menengah A Skala 1 : 50.000 layer/scene  Call/Hubungi Kami 1
20202 Interpretasi (Level II)/Digitasi Citra Resolusi Menengah B Skala 1 : 25.000 layer/scene  Call/Hubungi Kami 1
20203 Interpretasi Semi Detil (Level III)/Digitasi Citra Reolusi Tinggi A Skala 1 : 10.000 sq km/layer  Call/Hubungi Kami 50
20204 Interpretasi Detil/Digitasi Citra Resolusi Tinggi B Skala 1 : 5.000 sq km/layer  Call/Hubungi Kami 100
20205 Interpretasi Detil/Digitasi Citra Resolusi Tinggi C Skala 1 : 2.500 sq km/layer  Call/Hubungi Kami 100
20206 Interpretasi Detil/Digitasi Citra Resolusi Tinggi D Skala 1 : 1.000 sq km/layer  Call/Hubungi Kami 100
20207 Interpretasi Tematik dari Ortofoto/Citra Klasifikasi digital dan teknik digitasi on screen, maksimal 3 layer Ha  Call/Hubungi Kami 1000
20208 Interpretasi Custom Seperti : counting tree, landuse change, coastal line change,etc. Jumlah layer 1 Ha  Call/Hubungi Kami 1000
30201 Jasa Pembuatan Topografi, Model 3D, Volumetrik~ DSM grid 1-3m, skala 1:10.000-1:2.500, khusus pemesan produk orthophoto Ha  Call/Hubungi Kami 350
30202 Jasa Pembuatan Topografi, Model 3D, Volumetrik DSM grid 1-3m, skala 1:10.000-1:2.500 Ha  Call/Hubungi Kami 350
30203 Jasa Pembuatan Topografi, Model 3D, Volumetrik GDEM DSM dari SRTM/ASTER GDEM, skala 1:100.000 – 1:50.000, Elipsoid WGS 1984 Ha  Call/Hubungi Kami 1000
40201 Jasa Survei dan Pemetaan Custom Custom  Call/Hubungi Kami
50201 Jasa Survei Pengukuran GPS Geodetic Per Titik  Call/Hubungi Kami 1
50202 Jasa Survei Pengukuran Sipat Datar km  Call/Hubungi Kami 2
50203 Jasa Survei Pengukuran Sipat Datar Teliti km  Call/Hubungi Kami 2
50204 Pengolahan Data Hasil Survei GPS Per Titik  Call/Hubungi Kami 10
50205 Pengolahan Data Hasil Survei Pasang Surut Data 1 bulan Per Statiun  Call/Hubungi Kami 1

*(Untuk informasi lebih lanjut mengenai Survei Terestris dapat menghubungi kami)