Portfolio Items

Laman

Pemetaan Zonasi Irigasi Pertanian di Bojonegoro, Tuban, dan Cepu Kerjasama AIP-Rural (Australia-Indonesia Partnership)

Pemetaan Zonasi Irigasi Pertanian di Bojonegoro, Tuban, dan Cepu Kerjasama AIP-Rural (Australia-Indonesia Partnership) – Bulan Desembar 2017 TechnoGIS dan TIRTA bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Daerah Kabupaten Bojonegoro, Tuban di Jawa Timur dan Kecamatan Blora di Jawa Tengah. Daerah pertanian di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu termasuk sebagai daerah lumbung padi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.  Melalui aliran sungai utama Bengawan Solo yang masuk ke aliran tiap daerah di wilayah administrasi tersebut dan memberikan suplai air bagi lahan pertanian yang ada.  Kebutuhan akan air bagi lahan pertanian disekitarnya menjadi tercukupi.

Peta lahan sawah di tuban-bojonegoro dan cepu by technogis

Peta lahan sawah di tuban-bojonegoro dan cepu by technogis

Lahan pertanian pada Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu berada tersebar di masing-masing wilyahnya dan aliran Sungai Bengawan Solo hanya sampai hingga batas-batas wilayah tertentu. Lahan pertanian yang berada dekat dengan sumber air atau lahan pertanian di petak primer dan sekunder masih memiliki suplai air yang cukup.  Tingkatan lahan dibawahnya untuk tersier memiliki kondisi yang berbeda dan bahkan tidak tentu. Pengairan terkadang dapat dilakukan dengan air permukaan ataupun air tanah yang ada dan dapat juga lahan pertanian tidak mendapatkan pengairan yang cukup.Pengairan lahan pertanian memiliki mekanisme masing-masing yang dilihat dari jenis tanamannya dan kondisi tanah agar cukup bagi tanaman. Pengairan dari saluran irigasi kemudian dibagi-bagi agar lahan pertanian tersier mendapatkan akses pengairan. Membagi saluran utama primer ke saluran sekunder dan disambungkan hingga tersier serta saluran dibawahnya. Tujuannya adalah mengairi lahan pertanian di saluran irigasi tersier yang memerlukan suplai air. Irigasi tersier mampu memenuhi 8 hingga 15 hektar luasan lahan pertanian. Terpenuhinya kebutuhan dasar air ini akan meningkatkan kesejahteraan petani dengan hasil panen yang membaik tiap waktunya.

Program kerjasama antara negara Indonesia dengan Australia salah satunya menyoroti bidang pertanian ini dan ingin mendukung peningkatan kesejahteraan para petani.  Dukungan diberikan dengan memberikan para petani di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu akses untuk memperoleh pengairan yang cukup bagi lahannya masing-masing. Kondisi lahan pertanian yang dimaksud adalah lahan pertanian yang berada atau merupakan petak sawah tersier. Pemetaan sawah tersier yang dilakukan TechnoGIS akan membantu program kerjasama ini menjadi terarah pada lahan pertanian yang memerlukan dukungan pengairan.

Penentuan sawah tersier ditentukan berdasarkan kriteria penggunaan lahan, sumber pengairan, dan kondisi topografi yang dapat diamati dengan Geography Information System (GIS) dan kemudian menginformasikan sebaran area pertaniannya di wilayah kajian ini. Mengingat kondisi wilayah antar daerah berbeda-beda maka informasi spasial ini menjadi penting terutama untuk membantu arahan tentang keberadaan sawah tersier bagi program kerjasama ini.  TIRTA (Tertiary Irrigation Technical Assistance) adalah salah satu bagian dari kerjasama Australia-Indonesia untuk meningkatkan pembangunan desa. TIRTA bertujuan untuk mempermudah para petani kecil agar dapat mengairi lahan pertaniannya sehingga berpengaruh pada hasil panen dan kesejahteraan petani. Skema pengairan ataupun irigasi ini yang dirancang oleh TIRTA berupa irigasi tersier karena kondisi lahan pertanian yang jauh dari akses air sungai primer. Bekerja sama dengan HIPPA untuk mengelola skema pengairan ini serta investor lokal.

Pemetaan lahan pertanian petak sawah tersier pada wilayah kajian dilakukan pada bulan Desember 2017. Alur penentuan sawah tersier diamati dari penggunaan lahan, sungai, dan kondisi kemiringan lereng pada tiap daerah. Penggunaan lahan yang ada di area kajian yakni Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu adalah dominan sawah.

Lahan pertanian atau sawah dalam hal ini dilapangan terdiri dari sawah irigasi atau sawah tadah hujan. Membentuk peta penggunnaan lahan yang dipisahkan antara bangunan dan lahan lainnya dengan lahan pertanian sehingga hanya terdapat informasi lahan pertanian. Menggunakan informasi jaringan sungai utama dan memperhitungkan area lahan pertanian yang berada jauh dari aliran sungai. Syarat lain dari penentuan sawah tersier ini adalah berada pada area datar yang dapat dianalisis dari data slope. Dari beberapa hasil parameter tersebut dapat ditentukan area-area lahan pertanian yang termasuk dalam kategori sawah tersier.

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area kajian ( Tuban, Bojonegoro, Kec Cepu )

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area kajian ( Tuban, Bojonegoro, Kec Cepu )

Pemilihan lokasi lahan pertanian yang menjadi sorotan dalam program AIP disajikan dalam bentuk peta hasil olah data. Pengecekan dan pengamatan juga dilakukan dikondisi sebenarnya pada kegiatan lapangan di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu. Data survey lapangan yang diperlukan dilapangan adalah pengecekan penggunaan lahan sawah dan melakukan wawancara dengan para petani yang ditemui. Wawancara dilakukan pada petani yang ditemui di sawah atau orang yang memang mengerti tentang pertanian dan irigasi seperti Kepala Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Terutama untuk data sistem irigasi surveyor akan mengamatinya dilapangan.

Hasil pemetaan lahan sawah di zona irigasi tersier di Kec Cepu

Hasil pemetaan lahan sawah di zona irigasi tersier di Kec Cepu

Pertengahan bulan Desember 2017 TechnoGIS melakukan pengamatan lapangan. Kondisi hasil pengamatan lapangan dan pengolahan data untuk Kabupaten Bojonegoro dan Kecamatan Cepu menunjukkan banyak area pertanian yang potensial. Daerah dengan topografi yang relatif datar dan tersedia sumber air yang cukup akan memudahkan untuk penyaluran akses pengairan. Penyaluran dapat dilakukan langsung dari saluran primer atau pun sekunder untuk kemudian dialiri ke petak tersier. Produksi panen bagi daerah ini dominan pada varietas padi Ciherang. Pengelolaan lahan sudah memiliki struktur yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya Gapoktan yang menaungi para petani dalam hal bibit, tanam, pemanenan, dan juga hal-hal baru seperti teknologi pertanian dan pengetahuan baru.  Sisi pengelolaan pengairan sawah di Kabupaten Bojonegoro dan Kecamatan Cepu memiliki HIPPA (Himpunan Petani Pemakai Air) yang menaungi permasalahan kebutuhan air bagi petani. Masyarakat dan pengelola memiliki cara pembagian penggunaan air dengan HIPPA tersebut. Administrasi pembagiannya dilakukan berdasarkan hasil panen yang sebagian atau seperlimanya untuk HIPPA. Bagi Kabupaten Tuban keberadaan kelompok tani terdapat beberapa diantaranya Sumber Hidup,Samugede, Bagor Mulyo, Petengan Waras, Tani Jaya, serta Eratani dan lainnya. Perhimpunan seperti para petani pengguna air belum ada untuk daerah ini. Kondisi morfologi karst rembang mempengarui Kabupaten Tuban. Hal ini karena sebagian daerahnya terutama tengah dan selatan memiliki tanah dan batuan kapur. Hanya daerah-daerah tertentu yang digunakan untuk lahan pertanian.

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area Bojonegoro

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area Bojonegoro

Salah satu pemilik sawah dari Kabupaten Tuban yang ditemui dilapangan, Hartono mampu melakukan 4 kali panen dalam setahun di lahannya. Pola tanam yang dilakukannya tidak hanya padi saja namun padi, padi, kacang, dan gandum. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesuburan tanahnya. Bagi Lamijin di Kabupaten Bojonegoro lahan pertaniannya juga mampu panen hingga 4 kali dengan pola tanam padi,padi, padi, dan kacang hijau. Penanaman padi dilakukan lebih banyak karena kondisi lingkungan yang mendukung akan ketersediaan air bagi lahannya.  Lahan pertanian petak tersier tiap wilayah kajian didapati memiliki luasan yang variasi. Kecamatan Cepu memiliki luasan total 15.4085 km2. Kabupaten Tuban dan Bojonegoro memiliki luasan yang hampir sama yakni 451.483km2 dan 432.484km2. Lahan pertanian tersier di wilayah kajian tersebut ikut menyumbang produksi pangan di Pulau Jawa ini. Dukungan infrastruktur dan pengelolaan yang terarah merupakan hal penting yang dapat meningkatkan hasil panen para petani.

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area Tuban

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area Tuban

Dokumentasi Lapangan :

Survey Lokasi Pemetaan Jalur Pipa PT. Traya Tirta Cisadane

Survey Lokasi Pemetaan Jalur Pipa PT. Traya Tirta Cisadane – Bulan agustus tim technogis indonesia melakukan survey di area pemasangan pipa air milik  PT. Traya Tirta Cisadane di Tangerang, penentuan lokasi dan evaluasi kondisi lapangan untuk menentukan sumberdaya dan perencanaan pemetaan jalur pipa

Welcome

25 GIS Analyst

GIS & Remote Sensing

5 Programmers

Tim For WebGIS Apps

5 UAV Technitions

For UAV MappingTeam

100 Client

Our Happy Client

No better place to get gis support tim

Visit TechnoGIS Indonesia


Konsultasikan projek pemetaan GIS, foto udara, webgis dan pelatihan GIS anda ke tim kami untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Pemetaan Zonasi Irigasi Pertanian di Bojonegoro, Tuban, dan Cepu Kerjasama AIP-Rural (Australia-Indonesia Partnership)

Pemetaan Zonasi Irigasi Pertanian di Bojonegoro, Tuban, dan Cepu Kerjasama AIP-Rural (Australia-Indonesia Partnership) – Bulan Desembar 2017 TechnoGIS dan TIRTA bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Daerah Kabupaten Bojonegoro, Tuban di Jawa Timur dan Kecamatan Blora di Jawa Tengah. Daerah pertanian di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu termasuk sebagai daerah lumbung padi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.  Melalui aliran sungai utama Bengawan Solo yang masuk ke aliran tiap daerah di wilayah administrasi tersebut dan memberikan suplai air bagi lahan pertanian yang ada.  Kebutuhan akan air bagi lahan pertanian disekitarnya menjadi tercukupi.

Peta lahan sawah di tuban-bojonegoro dan cepu by technogis

Peta lahan sawah di tuban-bojonegoro dan cepu by technogis

Lahan pertanian pada Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu berada tersebar di masing-masing wilyahnya dan aliran Sungai Bengawan Solo hanya sampai hingga batas-batas wilayah tertentu. Lahan pertanian yang berada dekat dengan sumber air atau lahan pertanian di petak primer dan sekunder masih memiliki suplai air yang cukup.  Tingkatan lahan dibawahnya untuk tersier memiliki kondisi yang berbeda dan bahkan tidak tentu. Pengairan terkadang dapat dilakukan dengan air permukaan ataupun air tanah yang ada dan dapat juga lahan pertanian tidak mendapatkan pengairan yang cukup.Pengairan lahan pertanian memiliki mekanisme masing-masing yang dilihat dari jenis tanamannya dan kondisi tanah agar cukup bagi tanaman. Pengairan dari saluran irigasi kemudian dibagi-bagi agar lahan pertanian tersier mendapatkan akses pengairan. Membagi saluran utama primer ke saluran sekunder dan disambungkan hingga tersier serta saluran dibawahnya. Tujuannya adalah mengairi lahan pertanian di saluran irigasi tersier yang memerlukan suplai air. Irigasi tersier mampu memenuhi 8 hingga 15 hektar luasan lahan pertanian. Terpenuhinya kebutuhan dasar air ini akan meningkatkan kesejahteraan petani dengan hasil panen yang membaik tiap waktunya.

Program kerjasama antara negara Indonesia dengan Australia salah satunya menyoroti bidang pertanian ini dan ingin mendukung peningkatan kesejahteraan para petani.  Dukungan diberikan dengan memberikan para petani di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu akses untuk memperoleh pengairan yang cukup bagi lahannya masing-masing. Kondisi lahan pertanian yang dimaksud adalah lahan pertanian yang berada atau merupakan petak sawah tersier. Pemetaan sawah tersier yang dilakukan TechnoGIS akan membantu program kerjasama ini menjadi terarah pada lahan pertanian yang memerlukan dukungan pengairan.

Penentuan sawah tersier ditentukan berdasarkan kriteria penggunaan lahan, sumber pengairan, dan kondisi topografi yang dapat diamati dengan Geography Information System (GIS) dan kemudian menginformasikan sebaran area pertaniannya di wilayah kajian ini. Mengingat kondisi wilayah antar daerah berbeda-beda maka informasi spasial ini menjadi penting terutama untuk membantu arahan tentang keberadaan sawah tersier bagi program kerjasama ini.  TIRTA (Tertiary Irrigation Technical Assistance) adalah salah satu bagian dari kerjasama Australia-Indonesia untuk meningkatkan pembangunan desa. TIRTA bertujuan untuk mempermudah para petani kecil agar dapat mengairi lahan pertaniannya sehingga berpengaruh pada hasil panen dan kesejahteraan petani. Skema pengairan ataupun irigasi ini yang dirancang oleh TIRTA berupa irigasi tersier karena kondisi lahan pertanian yang jauh dari akses air sungai primer. Bekerja sama dengan HIPPA untuk mengelola skema pengairan ini serta investor lokal.

Pemetaan lahan pertanian petak sawah tersier pada wilayah kajian dilakukan pada bulan Desember 2017. Alur penentuan sawah tersier diamati dari penggunaan lahan, sungai, dan kondisi kemiringan lereng pada tiap daerah. Penggunaan lahan yang ada di area kajian yakni Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu adalah dominan sawah.

Lahan pertanian atau sawah dalam hal ini dilapangan terdiri dari sawah irigasi atau sawah tadah hujan. Membentuk peta penggunnaan lahan yang dipisahkan antara bangunan dan lahan lainnya dengan lahan pertanian sehingga hanya terdapat informasi lahan pertanian. Menggunakan informasi jaringan sungai utama dan memperhitungkan area lahan pertanian yang berada jauh dari aliran sungai. Syarat lain dari penentuan sawah tersier ini adalah berada pada area datar yang dapat dianalisis dari data slope. Dari beberapa hasil parameter tersebut dapat ditentukan area-area lahan pertanian yang termasuk dalam kategori sawah tersier.

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area kajian ( Tuban, Bojonegoro, Kec Cepu )

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area kajian ( Tuban, Bojonegoro, Kec Cepu )

Pemilihan lokasi lahan pertanian yang menjadi sorotan dalam program AIP disajikan dalam bentuk peta hasil olah data. Pengecekan dan pengamatan juga dilakukan dikondisi sebenarnya pada kegiatan lapangan di Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Kecamatan Cepu. Data survey lapangan yang diperlukan dilapangan adalah pengecekan penggunaan lahan sawah dan melakukan wawancara dengan para petani yang ditemui. Wawancara dilakukan pada petani yang ditemui di sawah atau orang yang memang mengerti tentang pertanian dan irigasi seperti Kepala Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). Terutama untuk data sistem irigasi surveyor akan mengamatinya dilapangan.

Hasil pemetaan lahan sawah di zona irigasi tersier di Kec Cepu

Hasil pemetaan lahan sawah di zona irigasi tersier di Kec Cepu

Pertengahan bulan Desember 2017 TechnoGIS melakukan pengamatan lapangan. Kondisi hasil pengamatan lapangan dan pengolahan data untuk Kabupaten Bojonegoro dan Kecamatan Cepu menunjukkan banyak area pertanian yang potensial. Daerah dengan topografi yang relatif datar dan tersedia sumber air yang cukup akan memudahkan untuk penyaluran akses pengairan. Penyaluran dapat dilakukan langsung dari saluran primer atau pun sekunder untuk kemudian dialiri ke petak tersier. Produksi panen bagi daerah ini dominan pada varietas padi Ciherang. Pengelolaan lahan sudah memiliki struktur yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya Gapoktan yang menaungi para petani dalam hal bibit, tanam, pemanenan, dan juga hal-hal baru seperti teknologi pertanian dan pengetahuan baru.  Sisi pengelolaan pengairan sawah di Kabupaten Bojonegoro dan Kecamatan Cepu memiliki HIPPA (Himpunan Petani Pemakai Air) yang menaungi permasalahan kebutuhan air bagi petani. Masyarakat dan pengelola memiliki cara pembagian penggunaan air dengan HIPPA tersebut. Administrasi pembagiannya dilakukan berdasarkan hasil panen yang sebagian atau seperlimanya untuk HIPPA. Bagi Kabupaten Tuban keberadaan kelompok tani terdapat beberapa diantaranya Sumber Hidup,Samugede, Bagor Mulyo, Petengan Waras, Tani Jaya, serta Eratani dan lainnya. Perhimpunan seperti para petani pengguna air belum ada untuk daerah ini. Kondisi morfologi karst rembang mempengarui Kabupaten Tuban. Hal ini karena sebagian daerahnya terutama tengah dan selatan memiliki tanah dan batuan kapur. Hanya daerah-daerah tertentu yang digunakan untuk lahan pertanian.

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area Bojonegoro

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area Bojonegoro

Salah satu pemilik sawah dari Kabupaten Tuban yang ditemui dilapangan, Hartono mampu melakukan 4 kali panen dalam setahun di lahannya. Pola tanam yang dilakukannya tidak hanya padi saja namun padi, padi, kacang, dan gandum. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesuburan tanahnya. Bagi Lamijin di Kabupaten Bojonegoro lahan pertaniannya juga mampu panen hingga 4 kali dengan pola tanam padi,padi, padi, dan kacang hijau. Penanaman padi dilakukan lebih banyak karena kondisi lingkungan yang mendukung akan ketersediaan air bagi lahannya.  Lahan pertanian petak tersier tiap wilayah kajian didapati memiliki luasan yang variasi. Kecamatan Cepu memiliki luasan total 15.4085 km2. Kabupaten Tuban dan Bojonegoro memiliki luasan yang hampir sama yakni 451.483km2 dan 432.484km2. Lahan pertanian tersier di wilayah kajian tersebut ikut menyumbang produksi pangan di Pulau Jawa ini. Dukungan infrastruktur dan pengelolaan yang terarah merupakan hal penting yang dapat meningkatkan hasil panen para petani.

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area Tuban

Hasil pemetaan sawah di zona irigasi tersier area Tuban

Dokumentasi Lapangan :

Survey Lokasi Pemetaan Jalur Pipa PT. Traya Tirta Cisadane

Survey Lokasi Pemetaan Jalur Pipa PT. Traya Tirta Cisadane – Bulan agustus tim technogis indonesia melakukan survey di area pemasangan pipa air milik  PT. Traya Tirta Cisadane di Tangerang, penentuan lokasi dan evaluasi kondisi lapangan untuk menentukan sumberdaya dan perencanaan pemetaan jalur pipa